Fahmi Imansyah


PROPOSAL SKRIPSI

unj

Judul:
PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS
(CLASS ROOM ACTION RESEARCH)
UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA SMK MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF LEARNING

Disusun oleh:
FAHMI IMANSYAH
5215083417
PEND. TEK. ELEKTRONIKA
REGULER

Fakultas Teknik
Jurusan Teknik Elektro
Universitas Negeri Jakarta


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Di Sekolah, siswa berbeda latar belakang, baik secara ekonomi maupun status pendidikan orang  tuanya. Sebab secara tidak langsung faktor keberhasilan siswa dalam pembelajaran di dukung oleh faktor lur yang menyangkut hal tersebut diatas. Disamping itu, Jarak siswa ke sekolah juga merupakan faktor signifikan sebab berpengaruh kepada tingkat pisik dan pskhis siswa.
Pada dasarnya, dalam  mencapai keberhasilan pembelajaran diperlukan suatu model yang tepat. Terdapat banyak model pembelajaran seperti Pembelajaran aktif, efektif, inovatif, kreatif dan menyenangkan (PAIKEM). Model pembelajaran ini lebih menitik beratkan pada rileksasi dalam melakukan sebuah pembelajaran. Tentunya, sebagai guru menghendaki keberhasilan dalam memola pembelajaran.
Iskandar et al, (1995) mengartikan pembelajaran ialah sebagai upaya untuk membelajarkan siswa, sedangkan pembelajaran menurut Degeng (1993) adalah upaya untuk membelajarkan pebelajar. Sedangkan menurut Wina Senjaya (2008 : 105) bahwa pembelajaran itu harus diarahkan pada pembentukan keterampilan mental tertentu, seperti keterampilan berpkir kritis, kreatif, maka proses pembelajaran yang dilakukan guru harus sampai pada usaha menciptakan lingkungan pembelajaran yang demokratis agar pembelajaran lebih bermakna.
Dengan demikian, pembelajaran itu adalah segala upaya yang dilakukan oleh Guru (pendidik) agar terjadi proses belajar mengajar pada diri siswa. Secara implisit, di dalam pembelajaran, ada kegiatan memilih, menetapkan dan mengembangkan metode untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan, pembelajaran lebih menekankan pada cara untuk mencapai tujuan dan berkaitan dengan bagaimana cara mengorganisasikan materi pelajaran, menyampaikan materi pelajaran dan mengelola pembelajaran.
Dalam mengelola pembelajaran agar lebih bermakna, maka sikap kreatif inovatif harus tumbuh pada guru. Sebab ia menjadi sumber belajar, terkadang seorang guru sangat jarang melakukan persiapan yang matang dalam melakukan pembelajaran. Kesiapan pembelajaran oleh guru dapat dilihat dari kesiapan dalam hal penyiapan media, strategi, bahan ajar serta model pembelajaran yang akan diaplikasikan dalam kegiatan belajar. Kelemahan ini, megakibatkan kurangnya motivasi siswa dalam belajar, bahkan  mereka mengalami kejenuhan. Sebagai guru yang profesional tentu harus memahami psikologis peserta didik.
 Dengan sebab itu, pembelajaran akan berhasil tidak lepas dari berbagai kompenen kesiapan guru dalam menyampaikan materi pelajaran. Persoalan ini sangat menarik untuk dianalisis, untuk itu penulis mengangkat tema ”Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Matematika siswa SMK Melalui Pembelajaran Kooperatif Learning.

B.     Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat penulis rumuskan masalahnya sebagai berikut :
1.  Bagaimanakah implementasi metode pembelajaran Kooperatif pada mata pelajaran Matematika ?
2.  Apakah metode pembelajaran Kooperatif sangat efektif untuk meningkatkan motivasi siswa dalam belajar Matematika?

C.    Tujuan Dan Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian tindakan kelas ini sebagai berikut :
1.      Tujuan Umum
a.       Diharapkan peserta didik dapat meningkatkan motivasinya untuk belajar mata pelajaran Matematika melalui metode Kooperatif.
b.      Untuk melihat prestasi atau hasil belajar pada mata pelajaran Matematika ini lebih meningkat dengan melalui metode kooperatif.
2.      Tujuan Khusus
a.       Untuk melihat seberapa prosentase tingkat motivasi/antusias siswa dalam pembelajaran Matematika setelah penggunaan metode kooperatif.
Adapun manfaat penelitian ini sebagai berikut :
1)      Untuk Guru yaitu sebagai bahan perbaikan diri dalam menjalankan proses pelaksanaan pembelajaran (PBM).
2)      Untuk siswa yatiu membantu siswa dalam menumbuhkan motivasi dan prestasi belajar Matematika.
3)      Untuk sekolah yaitu untuk meningkatkan mutu SMK sebagai sekolah yang unggul dalam pelajaran Matematika.
























BAB II
KERANGKA TEORITIS, KERANGKA BERPIKIR, DAN HIPOTESIS PENELITIAN

1.      Kerangka Teoritik
Semakin maju ilmu pengetahuan dan teknologi semakin membuat pengetahuan tersebut membuat antara sesame manusia mencurigai atau menciptakan superioritas hingga terjadi peremehan terhadap mereka yang tidak cerdas. Kaum terpelajar sering berselindung dibalik keunggulan pengetahuan mereka untuk melegitimasi kepentingan-kepentingan yang mereka inginkan.
Sementara itu sistem pendidikan pada tataran masyarakat dan Negara Indonesia. Pasca kemerdekaan konsep pendidikan di Indonesia belum bisa lepas sepenuhnya dari pengaruh penjajahan (Belanda dan Jepang) bagi masyarakat menengah ke atas. Sementara itu pada tataran masyarakat bawah mentalitas sebagai seorang yang terjajah masih membekas dihati dan terbawa kepada sikap yang tidak kreatif dan metal keterpaksaan. Adapula yang menarik dari sisi sejarah pendidikan pasca kemerdekaan, terjadinya ekslusif dunia pendidikan yang berbau barat dengan system pendidikan kaum pribumi religius (santri).
Pada tata aplikasinya sistem pendidikan di Indonesia terbagi kedalam beberapa konsep pendidikan seperti pendidikan formal di sekolah, informal di pesantrean, namun kesemua itu sangat dibutuhkan adanya strategi pembelajaran agar dapat berhasil secara afektif.
Masalah diatas merupakan kondisi realitas hasil dari pada pembelajaran yang cenderung diarahkan pada pragmatisme, oleh karena itu melalui pendiidkan akidah akhlaq ini diharapkan tumbuh serta berkembang nilai-nilai ketauhidan yang sesungguhnya, serta siswa dapat memiliki kepribadian yang baik.
Menurut Syaeful Bahri Djamarah & aswan Zain (2006 : 37), mengatakan bahwa pembelajaran diartikan suatu kondisi yang dengan sengaja diciptakan. Guru yang menciptakannya guna membelajarkan peserta didik.
M. Sobry Sutikno (2008 : 33) yang dikutif dari Dimyati dan Mudjiono, mengartikan pembelajaran adalah sebagai kegiatan yang ditujukan untuk membelajarkan siswa atau usaha-usaha yang terencana dalam memanipulasi sumber-sumber belajar agar terjadi proses belajar dalam diri siswa. Hal ini sejalan dengan Iskandar et al, (1995) mengartikan pembelajaran ialah sebagai upaya untuk membelajarkan siswa, sedangkan pembelajaran menurut Degeng (1993) adalah upaya untuk membelajarkan pebelajar.
Pembelajaran akan lebih bermakna rekreatif atau menjadikan peserta didik senang dan merasa termotivasi, jika guru pandai menggunakan metode pembelajaran. Dalam hal pembelajaran akidah akhlaq guru dapat menggunakan metode kooperatif learning.
Metode ini memiliki makna  bahwa pembelajaran koperatif ini sesuai dengan fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang penuh ketergantungan dengan orang lain, mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama, pembegian tugas, dan rasa senasib. Dengan memanfaatkan kenyatan itu, belajar berkelompok secara koperatif, siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan, pengalaman, tugas, tanggung jawab. Saling membantu dan berlatih beinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari hidup bermasyarakat, dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Cooperative Learning adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih. Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pembelajaran yang dikembangkan dari teori kontruktivisme karena mengembangkan struktur kognitif untuk membangun pengetahuan sendiri melalui berpikir rasional (Rustaman et al., 2003: 206). Model pembelajaran cooperative learning adalah salah satu model pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai subjek pembelajaran (student oriented). Dengan suasana kelas yang demokratis, yang saling membelajarkan memberi kesempatan peluang lebih besar dalam memberdayakan potensi siswa secara maksimal. Berikut ini akan dikemukakan beberapa keuntungan yang diperoleh baik oleh guru maupun siswa di dalam pelaksanaan pembelajaran menggunakan model cooperative learning.
Pertama, melalui cooperative learning menimbulkan suasana yang baru dalam pembelajaran. Hal ini dikarenakan sebelumnya hanya dilaksanakan model pembelajaran secara konvensional yaitu camah dan tanya jawab. Metode tersebut ternyata kurang memberi motivasi dan semangat kepada siswa untuk belajar. Dengan digunakannva model cooperative learning, maka tampak suasana kelas menjadi lebih hidup dan lebih bermakna.
Kedua, membantu guna dalam mengidentifikasikan kesulitan-kesulitan yang dihadapi dan mencarikan alternatif pemecahannya. Dari hasil penelitian tindakan pelaksanaan cooperative learning dengan diskusi kelompok ternyata mampu membuat siswa terlibat aktif dalam kegiatan belajar.
Ketiga, penggunaanya cooperative learning merupakan suatu model yang efektif untuk menge-mbangkan program pembelajaran terpadu. Dengan cooperative learning siswa tidak hanya dapat mengembangkan kemampuan aspek kognitif saja melainkan mampu mengembangkan aspek afektif dan psikomotor. Keempat, dengan melalui cooperative learning, dapat me-ngembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan reflektif. Hal ini dikarenakan kegiatan pembelajaran ini lebih banyak berpusat pada siswa, sehingga siswa diberi kesempatan untuk turut serta dalam diskusi kelompok. Pemberian motivasi dari teman sebaya ternyata mampu mendorong semangat siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya. Terlebih lagi bila pembahasan materi yang sifatnya problematik atau yang bersifat kontroversial, mampu merangsang siswa me-ngembangkan kemampuan berpikirnya. Kelima, dengan cooperative learning mampu mengembangkan kesadaran pada diri siswa terhadap permasalahan-permasalahan sosial yang terjadi di lingkungan sekitarya. Dengan bekerja kelompok maka timbul adanya perasaan ingin membantu siswa lain yang mengalami kesulitan sehingga mampu mengembangkan sosial skill siswa. Disamping itu pula dapat melatih siswa dalam me-ngembangkan perasaan empati maupun simpati pada diri siswa. Keenam, dengan cooperative learning mampu melatih siswa dalam berkomunikasi seperti berani mengemukakan pendapat, berani dikriik, maupun menghargai pendapat orang lain. Komunikasi interaksi yang terjadi antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa menimbulkan dialog yang akrab dan kreatif.
2. Karakteristik Pembelajaran Kooperatif
Karakteristik pembelajaran kooperatif diantaranya:
a. Siswa bekerja dalam kelompok kooperatif untuk menguasai materi akademis.
b. Anggota-anggota dalam kelompok diatur terdiri dari siswa yang berkemampuan rendah, sedang, dan tinggi.
c. Jika memungkinkan, masing-masing anggota kelompok kooperatif berbeda suku, budaya, dan jenis kelamin.
d. Sistem penghargaan yang berorientasi kepada kelompok daripada individu.
Selain itu, terdapat empat tahapan keterampilan kooperatif yang harus ada dalam
model pembelajaran kooperatif yaitu:
a. Forming (pembentukan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk membentuk kelompok dan membentuk sikap yang sesuai dengan norma.
b. Functioniong (pengaturan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk mengatur aktivitas kelompok dalam menyelesaikan tugas dan membina hubungan kerja sama diantara anggota kelompok.
c. Formating (perumusan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk pembentukan pemahaman yang lebih dalam terhadap bahan-bahan yang dipelajari, merangsang penggunaan tingkat berpikir yang lebih tinggi, dan menekankan penguasaan serta pemahaman dari materi yang diberikan.
d. Fermenting (penyerapan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk merangsang pemahaman konsep sebelum pembelajaran, konflik kognitif, mencari lebih banyak informasi, dan mengkomunikasikan pemikiran untuk memperoleh kesimpulan.
3. Unsur-unsur Pembelajaran Kooperatif
Sebagaimana yang telah diuraikan di atas bahwa pembelajaran Kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan dalam kelompok kecil, di mana Muslim Ibrahim (2006 : 6, dalam Depdiknas 2005 : 45) menguraikan unsur-unsur pembelajaran Kooperatif sebagai berikut:
a. Siswa dalam kelompoknya harus beranggapan bahwa mereka “sehidup sepenanggungan bersama”.
b. Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya seperti milik mereka sendiri.
c. Siswa harus melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama.
d. Siswa harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama di antara anggota kelompoknya.
e. Siswa akan dikena evaluasi atau hadiah/penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua kelompok.
f. Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
g. Siswa akan diminta mempertanggung jawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
Dengan memperhatikan unsur-unsur pembelajaran kooperatif tersebut, peneliti berpendapat bahwa dalam pembelajaran kooperatif setiap siswa yang tergabung dalam kelompok harus betul-betul dapat menjalin kekompakan. Selain itu, tanggung jawab bukan saja terdapat dalam kelompok, tetapi juga dituntut tanggung jawab individu.
4. Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif:
Sebagai seorang guru dalam memberikan pelajaran kepada siswa tentu ia akan memilih manakah model pembelajaran yang tepat diberikan untuk materi pelajaran tertentu. Apabila seorang guru ingin menggunakan pembelajaran kooperatif, maka haruslah terlebih dahulu mengerti tentang pembelajaran kooperatif tersebut. Dalam hal ini Muslim Ibrahim (dalam Depdiknas, 2005 : 46) mengemukakan ciri-ciri pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
a. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
b. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
c. Bila mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda.
d. Penghargaan lebih berorientasi pada individu.
Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksu konsep, menyelesaikan persoalan, atau inkuiri. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif), tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang, siawa heterogen (kemampuan, gender, karekter), ada control dan fasilitasi, dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi.
Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi, pengarahan-strategi, membentuk kelompok heterogen, kerja kelompok, presentasi hasil kelompok, dan pelaporan.(suyatno : tt)
Dengan penggunaan metode ini diharapkan dorongan atau motivasi siswa lebih meningkat, agar hasil pembealajaran yang hendak dicapai dapat berhasil. Sebab itu, faktor motivasi sangat diperlukan untuk menunjang kegiatan pembelajaran.

D.    Hipotesis Tindakan
Dari asumsi diatas, bahwa melalui metode pembelajaran kooperatif akan dapat meningkatkan motivasi dalam pembelajaran Matematika SMK.















BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN

1.                  Subjek Penelitian
Menariknya penelitian yang melibatkan jumlah siswa pada salah satu SMK di Jakarta yang berbeda latar belakang, dan membawa kompetensinya masing-masing. Maka dari itu, penulis berharap dari beberapa tindakan yang akan penulis lakukan, dapat efektif yaitu melalui penggunaan metode kooperatif sabagai media peningkatan motivasi siswa, Variabel yang diselidiki.

2.                  Variabel yang diselidiki
Adapun variabel yang diselidiki yaitu berkenaan dengan peningkatan motivasi siswa dalam pembelajaran akidah akhlaq melalui penggunaan metode kooperatif learning, dan penulis mengharapkan dari penggunaan metode pembelajaran ini dapat berhasil secara masksimal.

3.                  Tindakan
a.    Siklus I meliputi : pendahuluan, kegiatan pokok dan penutup.
b.   Siklus II meliputi : (Sama dengan atas)

4.                  Refleksi,
Kegiatan refleksi ini dilakukan setelah pembahasan antara siklus – siklus tersebut untuk dapat menentukan kesimpulan atau hasil dari penelitian.

5.                  Metode penelitian
Penulisan karya Ilmiah (penelitian tindakan kelas) ini, dalam pengumpulan datanya menggunakan riset analitis dan primernya diambil dari sumber buku-buku yang berkaitan erat dengan Motivasi dan penggunaan metode kooperatif. Untuk melengkapi penulisan tersebut, kemudian penulis meneliti atau melakukan penelaahan terlebih dahulu. Adapun metode dalam penulisan ini menggunakan metode deskriptif analisis, yaitu satu usaha untuk mengumpulkan, menyusun dan mengolah data kemudian diusahakan pula adanya analisis sifatnya secara umum yang mengarah kepada yang khusus. Dalam hal ini analisis motivasi siswa dalam pembelajaran Matematika, melalui metode imencari informasi secara mandiri atau kelompok.
6.                  Teknik penelitian
Adapun teknik yang penulis gunakan dalam penyelesaian penelitian ini adalah teknik studi analitik, yaitu teknik penelitian dengan cara mengumpulkan bahan, dokumentasi, dan atau informasi melalui studi lapangan, pengamatan dari objek yang diteliti serta berbagai sumber atau buku berhubungan dengan pokok permasalahan yang diteliti.
















\
DAFTAR PUSTAKA

Dimyati, DR & Mudjiono, Drs. 2006, Belajar dan Pembelajaran, 2006,
Jakarta PT. Rineka Cipta.

M. Sobry Sutikno, 2008. Belajar dan Pembelajaran; Upaya Kreatif dalam
mewujudkan Pembelajaran yang Berhasil, Bandung, Prospect.

Wina Senjaya, DR, M.Pd. 2006, Strategi Pembelajaran; berorientasi Standar
Proses Pendidikan, Jakarta, Prenada Media Group.









Tugas Jurnal Metodologi Penelitian




jurnal metlit f1